Mengenal Gaya Belajar Anak – Cooking Time

Mas Sabiq suka sekali kalo diajak memasak bersama. Terutama masak camilan kesukaannya seperti jelly atau pancake. Mas Sabiq selalu ingin terlibat dengan membantu menuang tepung, mencampur bahan-bahan, bahkan sampai ingin ikut mengaduk diatas kompor. Sayangnya desain dapur kami tidak memungkinkan anak-anak terlalu terlibat sampai masak diatas kompor.
Sedangkan Aufa, biasanya semangat membantu di awal, ikut-ikutan apa yg dilakukan masnya, tapi kemudian sibuk main sendiri.

Visual: walaupun belum bisa membaca, mas Sabiq tau dimana instruksi membuat jelly dilihat, dan meminta ummi utk membacakan. 

Auditori: memahami instruksi ummi secara lisan, untuk menakar bahan, menuang, hingga mencampur bahan-bahan

Kinestetik: menyentuh langsung tekstur bahan-bahan. Memptaktekkan secara langsung apa yg sudah tertulis di resep.

#tantangan10hari
#level4
#gayabelajaranak
#kuliahbunsayIIP

Advertisements

Perjuangan Belum Usai!


#level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

Mas Sabiq sudah terbiasa untuk mandi dan pakai baju sendiri. Setiap akan mandi dia mulai bilang “aku mandi sendiri ya” tantangan yg masih harus diselesaikan tng tingkat kebersihan mandinya. Juga masih suka main airnya dibandingkan mandinya. Mas Sabiq juga suka pakai baju sendiri karena dia bisa pilih baju yg disuka.

Mas Sabiq dan Aufa masih harus terus dilatih utk makan sendiri. Karena keduanya termasuk anak2 yg g suka makan, saya sering mengalah utk menyuapi anak2 supaya mereka tetap makan. Perlukah saya tega g suapin mereka walaupun makannya sedikit? 😀😅

Toilet training Aufa Alhamdulillah berjalan lancar saja. Asal rajin ditatur. Masih perlu banyak strategi utk membawa Aufa ke kamar mandi. Tapi kesabaran ummi untuk bersihkan bekas BAB di celananya, sudah lebih baiklah dibanding waktu toilet training mas Sabiq dulu 😂👍

Mas Sabiq sudah bisa diajak kerja sama utk bereskan mainan bersama-sama. Yang masih harus banyak dilatih adalah Aufa, sukanya mbongkar tapi susah mbereskan 😌

Latihan ini tidak akan berhenti sampai sini. Proses ini akan terus berjalan menuju kami yg lebih baik dari hari ini 😊💗

My Family Forum Day #10


#hari10

#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Day 10

Ngobrol dengan si Sulung

Inilah waktu ngobrol yang nyaman menurut saya dengan si sulung. Saat bersiap tidur siang, saya ajak mas Sabiq ngobrol untuk lebih tau perasaannya akan suatu hal, apa yg dia mau, apa yg dia suka dan tidak suka.

Siang kmrn saya ngobrol soal rencana kami hari minggu bsk pergi ke rumah uti nya di Tulungagung, jawa timur. Saya juga sampaikan rencana jangka panjang kami yaitu tentang tempat tinggal di Tulungagung.

Mas Sabiq sampaikan bahwa dia maunya di Surabaya aja, di rumah kakek nenek. Saya bicara dengan sangat lembut utk tahu alasannya tidak mau pindah. Terbantu sekali dengan bantal ya, jd intonasi suara kita bisa lembut sekali setengah ngantuk, haha.. 😂

Akhirnya saya bisa tau apa penyebab ia lebih suka tinggal di Surabaya drpd di Tulungagung. Mas Sabiq blom bisa memahami bahwa apa yg ia miliki di Surabaya, bisa juga ada di Tulungagung. Sejauh ini hanya masalah perbedaan fasilitas saja, yg insya Allah bisa diatasi. Saya sampaikan kepada mas Sabiq, bahwa tinggal dimana aja itu sama saja, asalkan kita tetap kumpul satu keluarga. Abi, ummi, mas Sabiq, adek Aufa, dan insya Allah calon adek barunya 😄

Pagi ini, bangun tidur setelah Subuh saya gunakan waktu utk ngobrol lagi dengan mas Sabiq. Kali ini saya menceritakan tentang sampah. Berkenaan dengan project urban gogreen for kids dari group RB playdate sidoarjo, saya jelaskan ada sampah yg bisa diuraikan oleh bakteri dengan cepat, ada juga yg membutuhkan waktu sangaaaaaaat lama. Alhamdulillah, informasi ini sampai dengan baik. Insya Allah bsk kami akan mempraktekkan tanam sampah plastik dan kulit buah, yang akan dibongkar 1 bulan lagi utk melihat hasilnya.

Alhamdulillah saya temukan waktu yg tepat utk ngobrol dengan anak. Semoga selalu diberi kesempatan oleh Allah untuk menyampaikan kebaikan kepada anak-anak, Amin.

My Family Forum Day #5

#hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Day 5

Dalam perjalanan pulang dari Tulungagung ke Surabaya, selalu saya manfaatkan utk banyak ngobrol dengan suami. Biasanya anak2 dalam kondisi tidur, sehingga kami bisa membahas banyak hal, mulai dr kegiatan saya di iip, rencana kedepan kami, keseharian anak2, dll

Dalam keadaan santai seperti itu saya merasa tidak ada kesalahpahaman yg sering terjadi apabila kami ngobrol face to face.
Kendala yang sering terjadi saat ngobrol dalam perjalanan seperti ini adalah saat anak2 tidak tidur, maka semua akan berebut bicara sampai saya bingung harus menanggapi.

Saat suami butuh cerita atau bicara panjang, saya akan memposisikan diri saya sebagai pendengar, berusaha menahan utk tidak memotong pembicaraan dengan tanggapan yg panjang lebar.

Untuk komunikasi dengan anak, hal yg baru saya sadari adalah, tidak semua hasil komunikasi dengan anak terlihat sesaat setelah kita menyampaikan informasi kepada mereka. Seperti obrolan soal berhemat kmrn dengan si sulung yg ditanggapi sebagai bentuk pembatasan terhadap kesenangannya. Kini tiba2 ia akan sering melontarkan kata2 “aku g mau beli ini kok, biar nanti (Uangnya) bisa buat beli xxx” meskipun yg dia sebutkan adalah utk beli mainan lain yg diinginkan dengan harga yg lebih mahal 😅 tapi saya memahaminya bahwa ia paham konsep berhemat. Menahan keinginan yg kurang prioritas, untuk keinginan yg lebih besar. Nanti pelan2 akan kami sisipkan kembali informasi lain yg akan menambah wawasannya.

My Family Forum Day #3

#hari3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Day 3

Hari ini kami telah ada rencana utk pulang ke rumah mertua di Tulungagung.
Perjalanan Surabaya-Tulungagung dan sebaliknya sudah menjadi rutinitas kami tiap bulan. Anak2 pun telah terbiasa dengan perjalanan 4 jam tersebut.
Perjalanan itu saya jadikan momen ngobrol dengan suami. 

Banyak yg bisa dibicarakan dalam perjalanan dengan mobil tersebut.
Yang saya rasakan selama ini, ngobrol dengan suami dalam perjalanan tsb bisa efektif. Tidak ada emosi dan salah paham. Obrolan bisa berlangsung santai. Padahal kami ngobrol tanpa ada eye contact 😀 (suami mengemudi, sedangkan saya duduk di belakang dng anak2)

Hari ini saat ngobrol, suami sampaikan, saya kalo ngobrol suka nyerocos gak berhenti. Hampir tidak memberi kesempatan suami utk ngomong 😀

Catatan buat saya untuk mengerem dan menyederhanakan kata2 saat ngobrol dng suami.
Karena perjalanan yg cukup panjang, obrolan bisa tentang apa saja. Mulai hal yg serius seperti rencana ke depan, hingga hal santai soal anak2
Tantangan selanjutnya agar family forum dapat berlangsung santai seperti hari ini, dimana saja dilakukan.

 

My Family Forum Day #2

#hari2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Day 2

Waktu: Pagi hari sebelum suami bersiap kerja

Tantangan: Malam sebelumnya ada kendala tentang kedisiplinan anak yg menyebabkan perbedaan pendapat antar saya dan suami, sehingga paginya walaupun telah mereda, tapi masih ada emosi

Perbincangan pagi ini dengan suami belum membahas tentang teknis family forum, karena Alhamdulillah ada hal penting yg perlu dan segera dibicarakan.

Pagi ini membicarakan standart pagi dan standart malam kami yang disepakati bersama untuk konsisten dijalankan. Hal ini juga melibatkan anak2. Kalau selama ini kami membiarkan anak2 bangun siang, maka dengan kesepakatan baru yg dibuat, anak2 akan dibangunkan di pagi hari dan beaktivitas bersama-sama. Karena keharusan bangun pagi, maka standart malam anak2 juga harus diperbaiki. Maksimal jam 21.00 mereka harus sudah dalam kondisi akan tidur. Begitu pula jadwal tidur siang anak2 yg harus diatur agar malamnya tidak tidur terlalu larut

Insiden malam sebelumnya, membuat saya ingin menyampaikan banyak hal kepada suami tentang bagaimana kami harus bersikap kepada anak2 yg sedang tidak disiplin. tapi karena kondisi malam itu tidak memungkinkan, maka saya menumpahkan uneg2 saya melalui tulisan di notes hp. sebagai sarana juga untuk mengatur kata2 saya saat nanti berkomunikasi dengan suami agar tidak terjadi salah paham. Tulisan yg awalnya saya niatkan untuk saya sampaikan secara lisan, urung saya lakukan karena emosi yg belum dapat ditata. kemudian berpikir utk langsung mengirim tulisan itu saja kepada suami. Namun, kemudian urung pula saya lakukan setelah melihat sikap suami yg menggambarkan bahwa ia menyadari kekeliruannya dalam bersikap.

Saya simpulkan, tidak semua saran saya harus saya sampaikan pada suami. bila saya melihat suami sudah memahami kondisinya, maka menyampaikan saran yg sudah ia sadari sendiri malah akan membuatnya merasa digurui.
Dan, pada akhirnya saya tetap bisa menyampaikan beberapa uneg-uneg saya saat ngobrol dengan suami di pagi harinya. Obrolan yg membahas solusi kedepan, bukan membahas insiden yg terjadi semalam.

My Family Forum day #1

#hari1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Untuk posting perdana tng family forum kami di rumah, sepertinya perlu saya tuliskan terlebih dahulu kendala-kendala komunikasi yg selama ini saya hadapi dalam keluarga. Dengan harapan, terlihat progress perbaikannya 🙂

Suami saya adalah orang yg tidak mudah menerima kritik dan saran. dari awal perkenalan saat akan menikah, beliau sudah menyampaikan tentang kekurangannya ini. kalo dirasa orang yg menyampaikan saran itu tidak mumpuni atau ahli di bidangnya, maka ia cenderung menolak saran itu (walaupun tidak secara langsung disampaikan)

Saya sering sekali membacakan artikel atau materi yg saya dapat secara online, kebanyakan mengenai parenting. Kelemahan saya adalah, saya malas utk merangkum terlebih dahulu apa yg ingin saya sampaikan atau minimal harusnya saya menyampaikan ke suami dengan bahasa saya sendiri. Saya lebih sering langsung membacakannya saja plek seperti yang tertulis. Suami yg sedang dalam mood mendengarkan akan dengan kritis menanggapi banyak hal. Bila ia tertarik dengan yg saya sampaikan, ia akan bertanya detail yg membuat saya kebingungan menjawabnya. disitu saya merasa jengkel :’D Padahal itu adalah kesalahan saya karena belum benar2 memahami atau meresapi apa yg saya baca.
Sebaliknya, saat suami dalam kondisi tidak mood mendengarkan, maka ia akan ‘iya iya’ saja -_-‘

Selama ini pula, saat saya menyampaikan suatu pendapat kepada suami dan kemudian suami tdk sependapat dengan pandangan saya, maka dalam hati saya merasa ini kesalaham suami karena selalu menganggap remeh orang yg dianggap tidak ahli dengan apa yg disampaikan. Namun, setelah saya mengikuti materi komunikasi produktif di kelas IIP Bunda Sayang, maka saya paham, bahwa sayalah yg harus mengubah strategi dalam menyampaikan pendapat kepada suami. Maka, saya bertekad utk berubah, belajar berkomunikasi lebih baik dengan harapan suami pun akan berubah ke arah yg baik bersama-sama.

Tentang berkomunikasi dengan anak (anak saya 4 thn dan 2 thn) sayalah yg harus banyak mengubah pola komunikasi saya. Materi komunikasi produktif yg saya dapat di kelas IIP Bunda Sayang, akan saya jdkan panduan utk mengubah pola komunikasi kepada anak, dan menularkannya kepada anak, bismillah


Day 1

Berencana untuk membicarakan dengan suami soal pentingnya Family Forum dan teknis pelaksanaannya. Namun, karena saya juga masih bingung bagaimana menjelaskan kepada suami pentingnya Family Forum, maka saya putuskan utk membicarakan apa saja yg saat ini saya pikirkan

Kendala: mencari waktu yg tepat.
Karena ini dalam rangka tugas, jd ada detline, jd gak bisa di setting seminggu sekali :p Jadilah merasa terburu2 dalam mencari waktu yg tepat.

Pagi ini, sebelum suami berangkat kerja, saya sampaikan kepada suami utk membahas kebiasaan kami yg sulit bangun pagi lagi. Padahal sebelumnya kami sudah biasakan bangun pagi dan olah raga bersama. Saya sampaikan keutamaan mengajarkan bangun pagi kepada anak2 sejak dini yg saya baca dari tweet Ust. Bendri Jaisyurrahman.

Maka, kami sepakat utk kembali mengatur strategi agar bisa terbiasa bangun pagi lagi dan olah raga pagi lagi. Setelah kami terbiasa, kami akan menularkan kebiasaan ini kepada anak2.
Oleh suami saya diberi tugas untuk menuliskan apa saja yg harus kami lakukan agar bisa terbiasa bangun pagi lagi.

Sedangkan untuk komunikasi dengan anak, hari ini saya berusaha menjadi ummi yg merendahkan nada bicara dan membersamai mereka secara full baik fisik maupun pikiran. Saat makan bersama-sama, sempat saya tanyakan mereka suka main apa sama ummi, suka makan buah apa (karena si sulung agak susah makan buah), dan…. saya lupa td ngobrol apa aja -_-a

Untuk Family Forum selanjutnya,
1. harus mencari waktu yg lebih tepat, lebih lama, dan lebih santai. Sehingga hasilnya lebih maksimal
2. melibatkan anak-anak, sehingga mendapatkan kedekatan antar keluarga
3. membahas pentingnya family forum dilakukan rutin, dan teknik pelaksanaannya