Siap Belajar Mandiri!

#level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

Daftar kemandirian yang ingin saya ajarkan ke anak-anak dalam waktu dekat:

Sabiq (3thn 11 bln)

  • ‌mandi dan pake baju sendiri
  • ‌makan sendiri
  • ‌bereskan mainan

Aufa (2thn 2bln)

  • ‌makan sendiri‌
  • toilet training
  • Bereskan mainan

Sempat terintimidasi dengan keluarga lain yg anak2nya sudah lebih mandiri. Tapi meyakinkan kembali, kan tiap keluarga itu beda 😊 untuk melatih kemandirian kepada anak juga, menurut saya harus dalam kondisi orangtua dan anak sama2 siap 💪

Baru skarang saya coba utk konsisten melatih 2 anak saya makan sendiri. Salah saya 😞 sebelumnya saat mereka menunjukkan keinginan utk mandiri dalam hal makan, saya yg gak sabar, gak telaten dan mengambil alih utk menyuapi. Jdnya skarang mereka terbiasa minta disuapi saat saya minta mereka utk makan sendiri. Tetapi perlahan-lahan mereka sudah mulai mau makan sendiri. Adek Aufa yg di awal makan minta disuapin, kemudian minta makan sendiri setelah lihat mas Sabiq makan sendiri (plus diingatkan reward bintang yg akan mereka dapat 😅)

Mas Sabiq sudah mulai tau dan ada keinginan untuk mandi dan pakai baju sendiri, Alhamdulillah.

Untuk Aufa, saya lebih fokus pada latihan BAK dan BAB di kamar mandi nya, karena baru berjalan 4 hari ini. Perjalanan masih panjang 😂

Fight!

Papan Bintang, Penambah Semangat


​#level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

Sejak mas Sabiq toilet training di umur 2th 6bl (kalo g salah ingat) saya gunakan papan bintang semacam ini utk memberi semangat. Tiap mas Sabiq berhasil BAK dan BAB di kamar mandi, maka ia akan mendapatkan 1 bintang. Bila bintangnya sudah sampai 10, ia boleh pilih mainan/jajan yg ia mau. Alhamdulillah cara itu berhasil. Kemudian, saya guanakan lg strategi itu untuk melatih kemandiriannya yg lain. 

Sekarang, papannya sudah harus diupdate 😁😅 ada adek Aufa yg juga mulai toilet training nya. Bismilah, semoga kami semua bisa konsisten. Semangat buat saya! 😂

Komunikasi Produktif – I’am Responsible for My Communication Result

#komunikasiproduktif
#IIP
#bundasayang

​Rasanya masih jauh ya dari kata layak utk mendapatkan badge diatas. Namun, Alhamdulillah dan terima kasih saya ucapkan kepada bu Septi dan tim atas ilmunya tng komunikasi produktif di kelas bunda sayang.

Ini adalah proses belajar seumur hidup. Selesai dapat materi, selesai menuntaskan tantangan, masih harus terus berproses, berusaha konsisten mengaplikasikan nya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah tantangan sesungguhnya. Menjadikan komunikasi produktif sebagai nafas dalam berkomunikasi sehari-hari. Bismillah, semangat!

My Family Forum Day #10


#hari10

#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Day 10

Ngobrol dengan si Sulung

Inilah waktu ngobrol yang nyaman menurut saya dengan si sulung. Saat bersiap tidur siang, saya ajak mas Sabiq ngobrol untuk lebih tau perasaannya akan suatu hal, apa yg dia mau, apa yg dia suka dan tidak suka.

Siang kmrn saya ngobrol soal rencana kami hari minggu bsk pergi ke rumah uti nya di Tulungagung, jawa timur. Saya juga sampaikan rencana jangka panjang kami yaitu tentang tempat tinggal di Tulungagung.

Mas Sabiq sampaikan bahwa dia maunya di Surabaya aja, di rumah kakek nenek. Saya bicara dengan sangat lembut utk tahu alasannya tidak mau pindah. Terbantu sekali dengan bantal ya, jd intonasi suara kita bisa lembut sekali setengah ngantuk, haha.. 😂

Akhirnya saya bisa tau apa penyebab ia lebih suka tinggal di Surabaya drpd di Tulungagung. Mas Sabiq blom bisa memahami bahwa apa yg ia miliki di Surabaya, bisa juga ada di Tulungagung. Sejauh ini hanya masalah perbedaan fasilitas saja, yg insya Allah bisa diatasi. Saya sampaikan kepada mas Sabiq, bahwa tinggal dimana aja itu sama saja, asalkan kita tetap kumpul satu keluarga. Abi, ummi, mas Sabiq, adek Aufa, dan insya Allah calon adek barunya 😄

Pagi ini, bangun tidur setelah Subuh saya gunakan waktu utk ngobrol lagi dengan mas Sabiq. Kali ini saya menceritakan tentang sampah. Berkenaan dengan project urban gogreen for kids dari group RB playdate sidoarjo, saya jelaskan ada sampah yg bisa diuraikan oleh bakteri dengan cepat, ada juga yg membutuhkan waktu sangaaaaaaat lama. Alhamdulillah, informasi ini sampai dengan baik. Insya Allah bsk kami akan mempraktekkan tanam sampah plastik dan kulit buah, yang akan dibongkar 1 bulan lagi utk melihat hasilnya.

Alhamdulillah saya temukan waktu yg tepat utk ngobrol dengan anak. Semoga selalu diberi kesempatan oleh Allah untuk menyampaikan kebaikan kepada anak-anak, Amin.

My Family Forum Day #9

​#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Day 9

I’m responsible for my communication result

Jadi ingat dialog saya dan ibu waktu kecil

Saya : “Ibu, aku benci sama pak Guru. Tadi aku dimarahi di depan kelas”

Ibu : “Pasti kamu melakukan kesalahan makanya pak Guru marah sama kamu. Tidak mungkin kan pak Guru tiba-tiba marah”

Kalimat itu membuat saya jengkel sekali karena ibu seakan-akan justru membela pak guru dan otomatis menyalahkan saya. 

Padahal saya hanya ingin di dengarkan. Sehingga kalimat

“Mbak jengkel banget ya sama pak guru, sini duduk sebelah ibu, minum teh hangat, dan mbak lanjutkan ceritanya”


Dialog diatas adalah kutipan materi yg ditulis ibu Septi Peni utk kelas bunda sayang. Dialog terakhir yg ditulis bu Septi sendiri entah bagaimana menentramkan saya. Kata2 yg dipilih benar2 menunjukkan kepedulian orang tua atas perasaan anak. Bukan menjudge seperti dialog sebelumnya.

Dialaog itu menyadarkan saya akan banyak hal. Bahwa, ya orang tua saya juga melakukan hal yg sama, ya saya juga merasakan kejengkelan yg sama dengan Bu Septi, ya sepertinya saya melakukan hal yg sama kepada anak2 saya 😫, dan ya kita bisa merubah pola komunikasi kita menjadi lebih baik.

Banyak sekali ya yang harus diperbaiki tentang komunikasi dengan anak. Saat kita merasa anak g ngerti2 apa yg kita jelaskan, mulailah emosi naik. Merasa anak tidak mendengarkan dengan baik. Padahal kitalah yg salah dalam cara menyampaikan informasi.

Dengan pasangan pun sama. Saya masih sering menyalahkan suami atas ketidakpahamannya dengan apa yg saya coba sampaikan. Pada ptakteknya, masih sulit menerapkan “I’m responsible for my communication result” di hati dan pikiran saya. Mungkin salah satu penyebabnya juga karena saya tidak bisa menemukan metode lain, kata2 lain, cara penyampaian lain yg tepat utk berkomunikasi dengan pasangan

“Bi, menurutmu perlu g kita adakan family forum rutin seminggu sekali gtu?” 

“Ya gpp, dicoba aja”

“Jd kita berempat ngobrol tanpa disambi apa2, tanpa pegang gadget, dll”

“Ya sambil pegang gadget kan juga gpp”

“Ya biar terjalin kedekatan antara satu sama lain”

“Ya biasanya kan sudah dekat, duduk sebelahan (setengah bercanda)”

😑😒😒

Kondisinya komunikasi dilakukan dengan suami saat ia buru2 mau berangkat kerja

Atau kali lain….

Saat suami sedang capek dan mau tidur

“Bi, anak2 lo suka bgt sama susu kambingnya. Masa sehari sudah habis 3 sachet”

“Duh, ini gmn posisi tidur yg enak ya”

😑😑😑

Hal sederhana yg ingin saya sampaikan, berharap tanggapan yg lebih antusias seperti “ohya, haha…wah, banyak ya habisnya. Ya sudah, mumpung anak doyan. Kalo habis, beli lg aja”

Tapi hasinya tak seperti yg diharapkan 😅😅😅

Saya lah yg harus mengkoreksi cara saya dalam berkomunikasi. Butuh banyak latihan. Semoga dibukakan jalan oleh Allah untuk berlatih lebih banyak, amin.

My Family Forum Day#8

#hari8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Day 8

Qaulan Sadida

Prinsip dasar ini yg saya dan suami sepakati sejak awal utk berkomunikasi dengan anak. Dimulai dari anak masih bayi, kami berusaha mengatakan yg benar, dan tidak berbohong meskipun utk mengalihkan kesedihan anak.

Sesuatu yg banyak dianut orang-orang tua jaman dulu ya… Kalimat seperti “ayo lihat ayam dimakan ular dibelakang” saat ortu akan berangkat kerja. Atau orang tua sengaja pergi diam2 tanpa pamit ke anak utk menghindari tangisan. Alhamdulillah, kami tidak terjebak dalam komunikasi seperti itu.

Kami berusaha berkata jujur kepada anak, dan memberikan pengertian. Hasilnya, menurut saya anak tidak pernah drama berlebihan kalo ditinggal abi nya kerja. Sekali duakali nangis, tapi setelah itu sudah bisa menerima dengan baik.

Dalam masa menyapih, kami tidak pernah menggunakan cara2 seperti puting yg dikasih pahit-pahit, dioles obat merah atau ditempelin plester 😁. Kami berusaha memberinya pengertian dan tidak pula memaksakan kehendak. Alhamdulillah, 2 anak kami termasuk anak2 yg mudah proses menyapihnya (untuk ini saya bersyukur sekali)

Kami juga berusaha memenuhi setiap janji kami, misalnya kami janjikan beli sesuatu bila ia berhasil melakukan sesuatu. Namun, ini juga harus kami kurangi, karena kami tidak ingin jd orang tua yg kebanyakan janji, trus bingung sendiri kalo mau menepati, hehe..

Semoga, bisa terus menerapkan prinsip ini dengan konsisten di tengah2 orang-orang yg melakukan sebaliknya, amin.

My Family Forum Day#7

​#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Day 7

Ayo, perbaiki komunikasi kita dengan anak!

Setelah membaca artikel tentang 12 gaya populer kesalahan komunikasi orang tua kepada anak yg disampaikan oleh bu Elly Risman, saya diingatkan kembali PR utk memperbaiki kesalahan komunikasi kepada anak.

Semua teori nya sudah disampaikan dalam materi komunikasi produktif di kelas bunda sayang, tapi prakteknya… Susah ya bu ibu… Suka lupa 😁

Saya tidak bisa mengurai satu satu pointnya dan fokus mempraktekkan 1 poin dalam 1 hari.

Saya baca ulang saja materinya sering-sering sbg pengingat saya saat berkomunikasi dengan anak.

Misalnya, untuk menghindari kalimat memerintah anak, saya coba ganti dengan memberikan pilihan pada anak. Sebenarnya tanpa sadar sudah sering saya praktekkan dalam bbrp hal, seperti memberi pilhan baju yg akan dipakai, memberi pilihan makan dan minum, mamberi pilihan waktu mandi, dll. Namun, hari ini karena ingat2 materi terus, saya jd lebih sering mempraktekannya, Alhamdulillah anak terlihat senang dan tidak terpaksa melakukan semuanya.

Mengurangi membanding2kan si sulung dengan adeknya. Ini sering bgt keceplosan saya lakukan 🙈

Saya kurangi marah pada hal2 yg sepele, dan menanggapinya dengan lebih tenang. Saya ubah sikap saya saat berkomunikasi dengannya, memandang matanya dengan sungguh-sungguh, menghargai semua yang ia sampaikan.

Yang dibutuhkan dalam memperbaiki ini adalah konsisten. Sehingga mengubah pola komunikasi kita menjadi lebih baik. Tidak akan lupa lagi kalo sudah jd kebiasaan 😊 Semangat!