#NHW3 IIP Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

​A. Bingung saat harus menuliskan surat cinta utk suami. Bukan karena tdk biasa, tapi saya ingat setahun yg lalu pernah melakukannya. Dan apa yg saya tuliskan saat itu sudah dapat menggambarkan kekaguman saya pada sosok suami. 

Jadi, utk tugas kali ini saya berikan kembali surat setahun yg lalu yg masih tersimpan di notes. Respon suami, merasa tersindir 😅 katanya apa ada yg salah dengannya sehingga saya memberikan surat itu lagi 😂😂. Kemudian kami memulai diskusi tng perbaikan diri dr masing2 kami. Keikutsertaan saya pada kelas matrikulasi iip ini, menyadarkan suami utk juga ikut memperbaiki diri, membarengi saya berproses menjadi lebih baik. Semoga Allah memudahkan proses ini. 

Dan dari diskusi itu, saya mendapatkan inspirasi utk menulis surat cinta baru utk suami. 

Pada surat cinta itu saya sampaikan kembali betapa beruntungnya saya disandingkan dengannya. Dan bagaimana saya kini memahami apa yg dimaksud dengan mencintai karena Allah. Respon suami, baca sambil berkaca-kaca, katanya “kok tiba2 bikin ini”, kemudian memeluk saya sambil mengucapkan “terima kasih ya”

Semoga Allah selalu menyatukan kami dalam visi misi yg sama dalam membangun rumah tangga ini sampai ke surga, amin
B. Potensi anak-anak

Potensi sabiq (3 tahun 8 bulan) 

Dari kecil terlihat kemampuan bicaranya baik. Sudah mulai lancar bicara sejak umur 1 tahun. Sampai sekarang, suka sekali ngomong, cerita, menyampaikan pendapat. Berharap, kemampuan ini bisa terus terasah, dan nantinya menjadi apapun dewasanya nanti, ia menjadi penyampai kebaikan, orang yg menyampaikan ayat2 Allah, mudah dipahami kata2nya oleh banyak orang, sehingga bisa mengajak orang kedalam kebaikan
Potensi aufa (1 tahun 11 bulan) 

Dari kecil selalu menyebutnya bayi lucu. Karena ada aja tingkahnya yg bikin gemes. Entah gayanya menirukan, gaya jogednya, atau gaya manyun manyunnya. Keinginannya kuat, saat nangis susah dialihkan 😅

Berharap nanti ia jadi orang yg kuat prinsip dan pendiriannya dalam islam, memberikan kebahagian utk banyak orang dan bisa menyampaikan ayat2 Allah serta mengajak orang dalam kebaikan.
C. Potensi diri

Saya rasa potensi diri saya yg makin menonjol dalam kondisi keluarga sekarang adalah adanya keinginan utk terus memperbaiki diri menjadi istri dan ibu yg baik. Sehingga bisa menjalankan kewajiban di dunia dengan baik, dan dapat mempertanggungjawabkan di akhirat dng baik pula.  Saya orang yg dapat menahan diri dalam mewujudkan keinginan. Artinya saya banyak memikirkan kepentingan keluarga dibandingkan keinginan saya yg bertentangan dng itu. Saya percaya, hidup di dunia ini kan hanya sementara, jd tdk mungkin kita bisa melakukan semua yg kita inginkan. Cukup dapatkan ridho Allah dan ridho suami, insya Allah di kehidupan yg abadi kelak, saya bisa mendapatkan apa saja yg saya inginkan. 
D. Saat ini saya dan keluarga masih tinggal satu rumah dengan orang tua saya. Memang idealnya kamu harus tinggal terpisah sehingga bisa mandiri dalam membangun rumah tangga. Namun, disaat kami belum mampu melakukannya, maka pilihan ini kami anggap sebagai jalan Allah yg harus dimanfaatkan. Saya jd lebih bisa banyak berbakti kpd orang tua, menemani mereka, membantu mereka dalam hal2 yg tdk bisa dilakukan. 

Dua saudara saya yg lain tinggal di kota yg berbeda. Sehingga keberadaan saya serumah dng orang tua juga bermanfaat menjadi penyambung antara saudara dan ortu yg mungkin dalam bbrp hal tdk bisa disampaikan secara langsung. 

Tantangan yg dihadapai tentu dalam hal pendidikan anak. Namun, saya dan suami ambil positifnya. Ini juga bisa menjadi pembelajaran kpd anak2 saya bagaimana cara menghormati orang tua (ketidaksempurnaan kami dalam bersikap kpd orang tua juga masih harus terus diperbaiki sehingga bisa menjadi contoh yg baik utk anak2) 
Dalam lingkungan keluarga diluar rumah, kami berusaha peka pada kebutuhan saudara2 yg membutuhkan bantuan. Terutama dalam hal materi, karena saat ini hanya itu yg bisa kami lakukan. Kami percaya, pemberian kami kepada keluarga adalah bernilai sedekah, sehingga tdk akan ada kerugian di dalamnya. Alhamdulillah, sampai saat ini dalam kondisi sesulit apapun, kami tdk pernah merasa kekurangan semuanya serba terasa cukup, masya Allah. 
Dalam lingkungan diluar rumah, kami tdk banyak bersosialisasi dengan tetangga sekitar, karena status kami yg masih ‘menumpang’ rumah ortu. Namun, utk lingkungan kantor suami, suami berkomitmen agar ia bisa menyampaikan kebaikan dan mengajak dalam kebaikan. Suami ingin berkontribusi lebih, tidak hanya dalam hal pekerjaan, tapi juga perbaikan sikap teman2 sekantornya. Semoga kami diberi kemudahan dalam menebar manfaat pada sekitar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s