Shalat dengan Ihsan

[7:56PM, 5/9/2015] Meyra: Akhwaaty fillah yang dirahmati Allah,
Bagaimana kabar akhwat sekalian? Semoga dalam kondisi keimanan yang terus bertambah ya..
Di kesempatan ini, saya diberi amanah untuk menyampaikan materi perihal shalat. Semoga menjadi pengingat yang bermanfaat bagi diri saya pribadi dan akhwat sekalian .

Sebelumnya, saya ingin mengajak akhwaat sekalian untuk merenung. Bertanya kepada diri kita masing-masing.
🍁Sudahkah shalat yang kita lakukan sampai saat ini menjadi kebutuhan kita, yang tidak hanya sekedar penggugur kewajiban? 🍁Sudahkah shalat yang kita lakukan terasa nikmat dan menjadi penghilang kepenatan dan kesedihan kita? 🍁Sudahkah shalat yang kita kerjakan membuat kita lebih tenang dan segar dari sebelum kita mendirikannya? 🍁Sudahkah kita menyukai berlama-lama berdiri ketika shalat, ataukah kita lebih suka sebentar saja? 🍁Sudahkah shalat yang kita lakukan dapat menghalangi kita dari perbuatan atau akhlak buruk kita?
🍁Sudahkah diri kita merasa bersalah ketika kita menunda-nunda shalat ? ataukah hal itu menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja?
🍁Atau bahkan meninggalkannyapun tidak membuat kita resah?

Silahkan menjawab pertanyaan ini masing-masing.
[7:58PM, 5/9/2015] Meyra: Jika sebagian besar pertanyaan diatas jawabannya adalah sudah, maka bersyukurlah kepada Allah atas karunia berharga itu. Dan semoga Allah beri keistiqomahan dalam mendirikannya. Jika jawaban kita sebagian besarnya masih belum, marilah kita berkaca. Bagaimanakah seharusnya seorang muslimah mengerjakan shalat dengan ihsan. Semoga setelah kajian kali ini, kita dapat berusaha meningkatkan semangat dan kualitas shalat kita selanjutnya sampai ajal menjemput kita. Aamiin.
Akhwaaty yang dimuliakan Allah,
Betapa banyak kenikmatan yang telah Allah Subhaanahu wa ta’ala berikan kepada kita. Sampai kita sendiri tidak sanggup menghitungnya karena saking banyaknya. Namun terkadang kita sebagai manusia, sering terlupa atau bahkan sengaja melupakan bahwa kenikmatan yang telah kita dapatkan itu pada hakikatnya adalah pemberian dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan bahkan kita malah sibuk mengurusi kenikmatan tersebut serta lalai dari berterimakasih dan menunaikan hak Sang Pemberi nikmat itu. Semoga kita disini tidak seperti itu.

Akhwaaty yang dikasihi Allah,
Sholat merupakah salah satu ibadah yang diperintahkan Allah Subhaanahu wa ta’ala kepada kita sebagai rasa syukur kita kepada-Nya atas anugerah nikmat yang telah diberikan-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa ta’ala dalam QS. Al-Kautsar : 1-2 yang berbunyi :
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.“
[8:00PM, 5/9/2015] Meyra: Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat tersebut maksudnya adalah “Sebagaimana Kami telah memberimu kebaikan yang banyak di dunia dan akhirat. Diantaranya adalah sungai Al-Kautsar yang sifatnya dijelaskan dalam hadist. Oleh karena itu, tulus ikhlaslah dalam menjalankan shalat wajib dan sunnahmu serta dalam berkurban hanya untuk Rabb-mu. Ibadahilah Dia semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan berkurbanlah dengan menyebut Nama-Nya semata yang tiada sekutu bagi-Nya.“
[8:03PM, 5/9/2015] Meyra: Keutamaan shalat
Akhawaaty fillah yang dirahmati Allah,
Betapa banyak dalil yang menunjukkan perintah dan keutamaan shalat 5 waktu, diantaranya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَـادِ، مَنْ أَتَى بِهِنَّ لَمْ يُضِيْعَ مِنْهُنَّ شَيْئًا اِسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَـانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.
‘Lima shalat diwajibkan Allah atas para hamba. Barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun karena menganggap enteng, maka dia memiliki perjanjian dengan Allah untuk memasukkannya ke Surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka dia tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Jika Dia berkehendak, maka Dia mengadzabnya. Atau jika Dia berkehendak, maka Dia mengampuninya.’”(Shahiih Sunan Ibnu Majah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »

“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak lagi hadits tentang keutamaan sholat.
[8:05PM, 5/9/2015] Meyra: Subhanallah… Betapa besar keutamaan shalat wajib yang kita kerjakan. Bahkan ibadah tersebut menjadi salah satu pengantar seorang wanita untuk masuk surga dari pintu mana saja yang dia mau berdasarkan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 
[8:06PM, 5/9/2015] Meyra: 🎀Kedudukan Shalat
1. Shalat adalah tiang agama
Kedudukan shalat lima waktu dalam agama ini adalah ibarat tiang penopang dari suatu bangunan. Tiang penopang yang dimaksud di sini adalah tiang utama. Artinya jika tiang utama ini roboh, maka tentu suatu bangunan akan roboh.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
2. Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .
“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”
Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud, Ahmad, Hakim, Baihaqi,. Al Hakim)
[8:07PM, 5/9/2015] Meyra: 3. Perkara terakhir yang hilang dari manusia adalah shalat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلاَةُ
“Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.” (HR. Al Hakim dan At Tirmidzi)

4. Pembatas antara seseorang dengan kekafiran
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Mengingat betapa pentingnya kedudukan shalat dalam agama Islam, maka hendaklah seorang mukminah memperhatikan shalat yang dilakukannya. Tidak menyia-nyiakan waktu yang telah ditetapkan Allah SWT. Menaruh perhatian yang tinggi sebelum dan ketika pelaksanaan shalat. serta khusyu’dalam menegakkannya.

Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa,

“Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah!

Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.“
[8:09PM, 5/9/2015] Meyra: Betapa tinggi perhatian Islam terhadap penegakkan shalat ini, sampai-sampai terdapat ayat dan hadist khusus yang menyeru kita sebagai orang tua untuk memerintahkan anak kita sejak usia 7 tahun dan diperbolehkan untuk memukulnya –dengan pukulan mendidik yang tidak menyakiti- pada usia 10 tahun jika enggan melaksanakannya.
Diantaranya firman Allah ta’ala :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132).

Dan hadist yang berbunyi :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ
“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka“. (HR. Abu Daud)

Celaan dan ancaman bagi yang lalai shalat
Melalaikan atau bahkan meninggalkan shalat merupakan perbuatan yang mengundang azab Allah Azza wa jalla sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’: 142).

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (al ghoyya), kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59-60)

Para ulama berbeda pendapat sehubungan dengan pengertian menyia-nyiakan salat dalam ayat ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan salat ialah meninggalkannya sama sekali, yakni tidak pernah mengerjakannya sama sekali. Dan ada yang berpendapat bahwa Makna yang dimaksud ialah sesungguhnya mereka hanya menyia-nyiakan waktu-waktu salat; karena seandainya mereka menyia-nyiakan salat (meninggalkan shalat), tentulah perbuatan itu merupakan perbuatan orang kafir. (Tafsir Ibnu Katsir)

Dan yang dimaksud dengan gayyan dalam ayat diatas ialah kerugian. Sedangkan menurut Qatadah yang dimaksud gayyan ialah keburukan.
Dan menurut Abdullah bin Mas’ud, Gayyan adalah nama sebuah lembah di dalam neraka Jahanam, Letaknya sangat dalam dan baunya sangat busuk.
[8:10PM, 5/9/2015] Meyra: Firman Allah Subhaanahu wa ta’ala dalam QS. Al-Ma’un : 4-5
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ 
Diantara bentuk melalaikan shalat dalam ayat tersebut sebagaimana terdapat dalam tafsir Ibnu Katsir adalah :

1. Melalaikan shalat dengan tidak melaksanakannya sama sekali. Ini adalah shalatnya kaum munafik yang mana ketika mereka berada bersama kaum muslimin mereka melaksanakan shalat, tetapi ketika mereka sendirian, mereka tidak melakukannya. Ini adalah pendapatnya Abdullah bin Abbas radhiallaahu’anhu.

2. Melalaikan shalat dengan tidak melaksanakannya sampai habis waktu shalat yang telah ditetapkan oleh syariat. Ini adalah pendapatnya Masruq dan Abu Adh Dhuha.

3. Melalaikan shalat dengan tidak melaksanakannya di awal waktu. Dia selalu atau sangat sering menunda melaksanakan shalat hingga di akhir waktu.

4. Melalaikan shalat dengan cara tidak menyempurnkan rukun-rukun dan syarat-syarat shalat yang telah diatur dalam syariat.
[8:15PM, 5/9/2015] Meyra: 5. Melalaikan shalat dengan tidak melaksanakannya dengan khusyu’ dan tidak memahami serta merenungkan makna dzikir dan bacaan shalat yang dilakukannya.
Marilah kita bertaubat dan memperbanyak istighfar jika kita masih termasuk dalam salah satu kategori ini. Semoga Allah Subhaanahu wa ta’ala menerima taubat kita…
Bagaimana menjadikan shalat kita lebih bermakna dan membuahkan hasil sebagaimana tujuan pelaksanaan shalat?

Sholat yang benar akan menghasilkan pengaruh yang baik untuk tubuh kita dan berbuah akhlak yang baik.
[8:16PM, 5/9/2015] Meyra: 📌Telah ada pemeriksaan otak berkaitan dengan pelaksanaan shalat dan pengaruhnya terhadap otak orang yang mengerjakan shalat. Dimana dilakukan City scan pada otak sebelum dan sesudah melaksanakan shalat. Shalat yang pertama dilaksanakan tanpa kekhusyu’an. Ketika pelaksanaan shalat, ia sambil memikirkan hal-hal lain di luar shalat yang sifatnya keduniaan.
📌 Lalu diperiksa kembali keadaan otaknya.
📌 Dan hasilnya, keadaan otak sebelum dan sesudahnya tidak menunjukkan perubahan. Lalu pada pemeriksaan selanjutnya, ia berusaha melaksanakan shalat dengan penuh kekhusyu’an dan konsentrasi.
📌Kemudian diperiksa kembali keadaan otak setelah itu. Dan ternyata, ada perubahan dalam otak ketika orang tersebut melaksanakan shalat dengan khusyu’. Dan perubahan ini memberi dampak yang positif sekali, berupa rasa kasih sayang, otak yang fresh, ketenangan dan ketundukan serta energi yang bertambah.

Hal itu merupakan pengaruh dari bacaan yang dibaca ketika shalat. Pemeriksaan ini telah dilakukan dan dapat disimak di http://www.youtube.com/watch?v=T4s1j6H3rz8

📌 Fakta ini merupakan satu bukti bahwa ketika kita melaksanakan shalat sebagaimana yang seharusnya, niscaya kita akan mendapatkan banyak manfaat yang kembali kepada diri kita sendiri. Baik untuk jasad dan rohani kita. Ataupun untuk kehidupan dunia dan akhirat kita
[8:17PM, 5/9/2015] Meyra: 🌹Akhwaaty fillah yang dikasihi Allah,
Selain manfaat pribadi yang akan kita peroleh dengan shalat, ternyata shalat yang benar dapat membuahkan akhlak yang baik yang akan mencegah seseorang dari perbuatan keji yang meresahkan masyarakat.

Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa ta’ala
اتْلُ مَآ اُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَي عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS.Al-Ankabut : 45)

Jika kita sudah rajin melaksanakan shalat, namun akhlak kita masih buruk dan masih suka membuat keresahan dalam masyarakat, maka berkacalah. Apakah shalat yang dilaksanakan sudah benar dan sesuai dengan tuntunan syariat.
Lalu, marilah kita perbaiki shalat kita yang merupakan hubungan langsung kita kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, Sang Pencipta kita. Jika hubungan kita baik kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, niscaya hubungan kita dengan manusia akan baik juga.

Akhwaaty yang dimuliakan Allah,
Shalat itu adalah zakat waktu untuk Allah Subhaanahu wa ta’ala. Sedangkan sodaqoh (zakat mal) adalah zakat harta untuk Allah Subhaanahu wa ta’ala. Jumlahnya 2,5 %. Sehingga jika seseorang ingin menunaikan hak Allah Subhaanahu wa ta’ala dengan baik, maka setidaknya dia menyiapkan minimal 2,5% dari 24 jam waktunya untuk Allah Subhaanahu wa ta’ala dengan menunaikan shalat.
Yang berarti waktu minimalnya adalah 36 menit dalam sehari. Karena sehari ada 17 rakaat, maka minimal sekitar 2 menit per rakaat waktu yang di perlukan seseorang untuk dapat menunaikan shalat dengan sebaik-baiknya. Rukuk dengan tuma’ninah, sujud dengan tuma’ninah dan disertai kekhusyuán.  Maka waktu minimal yang diperlukan seseorang untuk shalat dzuhur  adalah 8 menit. Itulah hak Allah Subhaanahu wa ta’ala atas makhluk-Nya. Maka hendaklah kita menegakkannya dengan sebaik-baiknya.
[8:18PM, 5/9/2015] Meyra: 🎀Berikut ini adalah Tips khusyu dalam shalat :

1. Jika kita ingin khusyu’ dalam beribadah, yang perlu kita camkan adalah kita sedang berhadapan dengan Pencipta kita yang  Agung. Kita sedang mencari perhatian, rahmat dan ridha-Nya. Maka, hendaklah kita bersungguh-sungguh dan penuh perhatian di hadapan-Nya.  Jika kita berhadapan dengan orang yang kita segani, kita kagumi dan kita harapkan bantuan atau perhatiannya saja, kita bisa konsen dan perhatian di hadapannya. Maka, apalagi jika kita berhadapan dengan Zat tempat segala makhluk bergantung. Dengan kita memahami dan menyadari akan agungnya Zat yang kita hadapi, kita akan bermujaahadah untuk khusyu’ menghadirkan hati kita dan tunduk di hadapan Allah, Zat yg kita harapkan ridha-Nya. Yakini bahwa Allah Subhaanahu wa ta’ala sedang melihat kita ketika kita shalat dan mendengar permohonan yang kita minta. Itulah Ihsan. Kita beribadah, seolah-olah kita melihat Allah karena kita yakin bahwa Allah melihat kita.
[8:19PM, 5/9/2015] Meyra: 🔷2. Pahami keutamaan & pentingnya shalat yang kita lakukan.
🔷3. Pahami makna dan tadabburi ayat/dzikir yang kita baca. 
🔷4. Bacalah ayat/dzikir dengan tartil (perlahan). Sehingga ketika kita membacanya, kita dapat meresapi dan merenungi apa yang kita baca.
🔷5. Berlindung diri kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’ala dari godaan syaithan. Dan berusaha sekuat tenaga untuk melawannya. Karena syaithan selalu berusaha mencari celah agar kita lalai dari mengingat dan mendekatkan diri kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’ala. CAMKAN BAHWA SYAITHAN ADALAH MUSUH NYATA BAGI MANUSIA BERIMAN. Usaha syaithan tersebut bisa berupa was-was, membuat kita memikirkan hal-hal diluar shalat seperti memikirkan barang yang hilang, pekerjaan kita yang belum selesai, dan sebagainya.
[8:21PM, 5/9/2015] Meyra: 🔷6. Menjauhi segala hal yang mengganggu kekhusyuan ibadah kita, seperti menahan buang air, menahan kantuk, hidangan makanan yang menggiurkan di hadapan kita, dan sebagainya.
🔷7. Memahami pentingnya khusyu’ dalam beribadah & kerugiannya jika kita tidak khusyu’.
🔷8. Lakukan persiapan yang optimal sebelum shalat. Luruskan niat kita hanya untuk Allah Subhaanahu wa ta’ala semata.
🔷9. Tuntutlah ilmu agama yang hukumnya wajib kita pahami sebagai seorang muslim. Seperti Ilmu mengenal Allah Subhaanahu wa ta’ala, halal & haram, fikih shalat, dan lain-lain.
🔷10. Berdoa kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala agar dikaruniakan hati yang khusyu’.  Diantara doa tersebut :

أَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَ مِنْ دُعَاءٍ لاَيُسْمَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَتَشْبَعُ وَمِنْ عِلْمٍ لاَيَنْفَعُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ هَؤُلاَءِ الْأَرْبَعِ. (رواه الترمذى)
Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, do’a yang tidak didengar, jiwa yang tidak pernah puas, dan ilmu yang tidak bermanfaat. (HR. At-Tirmidzi)

🔷11. Jadikahlah shalat yang kita dirikan seakan-akan merupakan shalat terakhir kita di dunia ini.😭😭
Ingatlah kematian dan yakinlah bahwa kelak kita akan berjumpa dengan Rabb kita.
[8:23PM, 5/9/2015] Meyra: Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga dapat bermanfaat. Dan semoga Allah Subhanahu wa ta’alaa memberi taufiq kepada kita dan keluarga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menegakkan shalat.

ربنا اجعلنا مقيمي الصلاة ومن ذريا تنا ربنا وتقبل دعاء نا
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami dan anak cucu kami orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doa kami.

ﺃﻗﻮﻝ ﻗﻮﻟﻲ ﻫﺬﺍ ﺃﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻲ و ﻟﻜﻦ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻧﻔﻌﻨﺎ ﺑﻤﺎ ﻋﻠﻤﺘﻨﺎ و ﻋﻠﻤﻨﺎ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻨﺎ ﺳﺒﺤﺎﻧﻚ ﺍﻟﻠﻬﻢ و ﺑﺤﻤﺪﻙ أﺷﻬد أن ﻟﺎ ﺇﻟﻪ ﺇﻟﺎ ﺃﻧﺖ ﺃﺳﺘﻐﻔﺮﻙ و ﺃﺗﻮﺏ إليك

Wasalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh
Al-Faqiirah ilaa ridho rabbiha

🌹Afifatun Nisa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s